Saat
balita, rasanya dunia tertutup oleh gelapnya malam. Dimana, dunia-ku masih
diliputi kain yang membungkus tangan dan kaki-ku, atau biasa masyarakat sebut
istilah bedong. Hal itu tak sadar dengan kesehari-harian saat-ku balita, seakan
tak merasakan apa yang orang dewasa rasakan. Hanya mata terbuka, air mata
menitih, dan mulut mengeluarkan suara tangisan ketika lapar. Perjuangan saat
balita sangatlah menguji mental. Hak pun jadi pilihan, tidak bisa menentukan
kebenaran. Seakan berjalan diatas air, tenggelamlah sudah. Bukan berarti
menghakimi dunia halusinasi. Akanlah, ketidak pahaman arti kehidupan
sesungguhnya, pada saat balita.
Bumi
berputar pada porosnya. Waktu dan tahun kelahiran terus bertambah dan juga
membereskan masa kelam saat balita. Bertambah-nya umur, serasa jiwa memanas
keingin-tahu’an tentang keterbukaan masalah kehakiman alam semesta ini. Tentu bisa
dipastikan, hawa nafsu selalu bertengkar dengan akal pada makhluk berkepala
manusia. Bahkan, tak ada hentinya untuk mempropokasikan permasalahan seluruh
alam semesta ini.
Ya,
bukan jiwa-ku tak mau bertanya pada
Tuhan? Hanya saja ragu dengan pertanyaan-ku ini. Yang mungkin diluar
kejiwaan manusia normal biasanya. Aku paham tuhan-pun tak akan menyalahkan pada
tutur hidup kita sebagai manusia. Ya, Tuhan-pun tak ikut serta pada apa yang
diperbuat oleh manusia itu sendiri. Jalan manusia adalah pilihan, Tuhan hanya
mengarahkan pada hukum-hukum yang sudah di turunkan.
Waktu-pun
meringkas kehidupan. Bertambahnya umur, seakan aku dituntut dengan permasalahan
kedewasaan nan menghakimi dunia. Menutut, Dimana keberadaan karakteristik aku
berada, berjiwa dari segi bidang, profesi, lebih banyak lagi. Aku-pun sadar
akan tuntutan, sehingga berkali-kali ku coba, jawab adalah pemikir.