Senin, 21 Maret 2016

PARADOKS CINTA

Hasil gambar untuk malu tapi mauParadikma cinta berfatwa. Cinta sama hal-nya dengan alam semesta ini, seperti sarang laba-laba. Dimana-pun berada pasti terkait oleh sarang laba-laba itu sendiri. juga hampir sama hal-nya, seperti ada koneksi dari satu kelain-nya. secara garis besarnya suatu kebetulan itu adalah suatu pelopor kebohongan.

Jika kita ketemu cewek yang kita sukai, tapi belum kenal pasti dan hanya sekedar kenal wajah. Tetapi hati sudah tergores perasaan yang lebih. Dan kebanyakan orang mengatakan, segi pertemuan seperti ini adalah hanya sebuah kebetulan semata.
Begitu juga gue pribadi sangat tidak setuju bahwa bertemu-nya seseorang yang kita sukai itu adalah sebuah kebetulan. Dan gue lebih setuju dengan pernyataan Paradikma.

Jumat, 04 Maret 2016

DIA ADALAH PUJANGGA-KU


Saat balita, rasanya dunia tertutup oleh gelapnya malam. Dimana, dunia-ku masih diliputi kain yang membungkus tangan dan kaki-ku, atau biasa masyarakat sebut istilah bedong. Hal itu tak sadar dengan kesehari-harian saat-ku balita, seakan tak merasakan apa yang orang dewasa rasakan. Hanya mata terbuka, air mata menitih, dan mulut mengeluarkan suara tangisan ketika lapar. Perjuangan saat balita sangatlah menguji mental. Hak pun jadi pilihan, tidak bisa menentukan kebenaran. Seakan berjalan diatas air, tenggelamlah sudah. Bukan berarti menghakimi dunia halusinasi. Akanlah, ketidak pahaman arti kehidupan sesungguhnya, pada saat  balita.
Bumi berputar pada porosnya. Waktu dan tahun kelahiran terus bertambah dan juga membereskan masa kelam saat balita. Bertambah-nya umur, serasa jiwa memanas keingin-tahu’an tentang keterbukaan masalah kehakiman alam semesta ini. Tentu bisa dipastikan, hawa nafsu selalu bertengkar dengan akal pada makhluk berkepala manusia. Bahkan, tak ada hentinya untuk mempropokasikan permasalahan seluruh alam semesta ini.
Ya, bukan jiwa-ku tak mau bertanya pada  Tuhan? Hanya saja ragu dengan pertanyaan-ku ini. Yang mungkin diluar kejiwaan manusia normal biasanya. Aku paham tuhan-pun tak akan menyalahkan pada tutur hidup kita sebagai manusia. Ya, Tuhan-pun tak ikut serta pada apa yang diperbuat oleh manusia itu sendiri. Jalan manusia adalah pilihan, Tuhan hanya mengarahkan pada hukum-hukum yang sudah di turunkan.
Waktu-pun meringkas kehidupan. Bertambahnya umur, seakan aku dituntut dengan permasalahan kedewasaan nan menghakimi dunia. Menutut, Dimana keberadaan karakteristik aku berada, berjiwa dari segi bidang, profesi, lebih banyak lagi. Aku-pun sadar akan tuntutan, sehingga berkali-kali ku coba, jawab adalah pemikir.