Waktu dan tempat gue persilahkan loe bagi para histeris yang pernah dekat sama wanita dan loe juga seorang wanita sebaliknya, untuk mendiskusikan postingan gue ini.
Saat gue sedang menjajah masa pendidikian, gue suka sama seorang wanita. Emang si gak setiap hari gue ketemu sama dia, cuma pada waktu yang tertentu aja. Bisa dibilang satu hari atau dua hari, tapi disisi lain timbul perasaan aneh. Entah apa? gue juga masih agak bingung. Memang cantik anaknya, bahkan orang lain pun satu pendapat sama gue.
Pada waktu itu sambil gue perhatiin, anaknya pendiam gak banyak bercanda kaya yang lain. Mungkin malu dengan kecantikannya kali ya?. Atau mungkin emang sudah menjadi keterbiasaan hidup membisu! Ah mustahil. Tapi yang pasti dia orang baik. Dan hari dimana gue awal ngeliat dia, rasanya gue benar-benar punya perasaan lebih sama dia kayanya. Ya, kalau bahasa anak muda jaman sekarang si suka.
Hari itu, dimana hari gue terakhir meliahat dia. Karena, gue lagi di suatu tempat pembelajaran untuk melajutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi. Sedih juga si rasanya, cuma beberapa hari melihat wanita itu.
Sekian lamanya.Tahunan maksudnya, gue di chat sama teman gue, ada sebuah perkumpulan alumni. Awalnya gue nolak, karena malu.Tapi setelah gue pikir-pikir lagi, kalau gue ikut bisa ketemu sama wanita itu dan kebetulan juga teman gue yang nge-chat satu lembaga sama dia. Gue memulai percakapan singkat sama teman gue, sebut saja Dom namanya.
"Dom, kiranya dia ikut gak?
"Siapa? ujar Dom.
"Wanita yang terbilang cantik itu.
"Oh. Ya, dia ikut. Ujar Dom
"Oklah kalau dia ikut, gue juga ikut.
"Halah semprul. ujar Dom
"Haha
Waktu itu juga gue mengahadiri pertemuan itu,dan gue benar-benar ketemu sama dia yang sudah sekian tahun baru ketemu lagi. Memang masih menempel kecantikan pada dirinya, sungguh luar biasa ciptaan Tuhan. Perasaan gue pun muncul lagi. Halah apa ini yang bergetar pada jantung gue? mungkin cuma gempa kecil pada anggota tubuh gue.
Tapi sebelumnya gue sudah suka sama seseorang setelah gue ditinggal pergi sama seorang wanita yang pernah dekat sama gue. Dia adalah teman gue sendiri.
Dan walaupun gue belum tau siapa namanya, biografi lebih jelasnya. Tapi gue benar-benar merasa ada suatu keanehan yang hadir dalam hidup gue. Beda dengan wanita yang satu lembaga sama teman gue. gue cuma perasaan aja gak lebih. cuma gue ingin dia jadi teman dekat gue.
Selang beberapa hari setelah pertemuan alumni di suatu tempat, gue mempersiapkan diri untuk memberanikan diri berbicara tentang masalah, masalah perasaan yang selama ini selalu menggajal dibenak hati gue.
Ya, waktu itu gue bertemu dia. Dan gue memanggil dia. Saat dia menghampiri gue, gue benar-benar gugup, yang lebih parahnya lagi gue lupa dengan kata-kata yang gue mau obrolin buat dia. Karena gue lupa, langsung aje gue kasih amplop yang berisikan surat. Selesai sampai disitu gue dan dia pergi ketujuan masing-masing.
Selang beberapa jam gadget gue berbunyi. Saat gue buka ternyata dia, wanita yang gue kasih surat itu. Dia tau nomer gadget gue, karena gue tulis nomer gadget gue disitu. Sedikitnya percakapan gue langsung bicara jujur tentang perasaan gue sama dia. "Lewat via sms. Sebenarnya gue cuma bilang tentang sebuah perasaan gue padanya. Tapi, pada saat gue menyatakan perasaan sama dia. Dia nolak gue, gue benar-benar bingung. Apa gue salah bicara? tapi kayanya engga. Gue cuma ingin mengeluarkan suatu yang terpendam dibenak hati gue. Dan ingin menjadi teman dekat saja, bukan berarti memiliki. Tapi waktu itu gue coba tanya sama teman gue? bahasa gue pada wanita itu. "benar, loe gak nembak doy, ujar teman gue.
Waktu itu, gue benar-benar bingung bagaiamna cara menanggapinya? gue takut dia sakit hati. Gak habis pikir, gue berbuat bodoh. Karena gue takut wanita itu sakit hati. Gue membalas chatanya itu seperti orang yang nembak wanita. Hadeuh.
Tapi suatu saat gue akan berbicara jujur, karena gue gak bisa memendam ini.
Sebenarnya gue sudah suka sama seseorang yang lebih, pada wanita yang sama sekali gue gak tau tentang biografinya. Sederhana sekali, selalu menunduk pada setiap orang bukan berarti tak igin melihat manusia disisinya, tapi itu bentuk penghormataannya. Ya, dia berkulit putih dan berhiaskan cincin di jari manisnya. Dan gue padanya sebenarnya bukan gak ada usaha buat bicara sesuatu yang penting. Sebelum gue bicara sama wanita yang satu lembaga sama teman gue. Sebenarnya gue udah mencoba. Ya, tepat tiga kali gue mencoba untuk bertemu dengan dia, dijalan dimana yang dia setiap harinya dilewati. Tapi perjuuangan gue sia-sia, gak ketemu sama sekali sama dia. Hah sudahlah.
Gue menghampiri teman baik gue, sebut saja namanya Kodok. bukannya dibantuin atau apa, dia malah marah dan berfatwa seperti ini.
"Itu proses perjuangan perasaan loe yang sesungguhnya, loe jangan putus asa. Tuhan menguji sebesar mana perjuangan loe padanya.
Gue hanya terdiam.
Dan sampai saat ini perasaan dan harapan besar gue benar-benar masih membuat gue sering susah tidur. Dan untuk wanita yang satu lembaga dengan teman gue itu, gue benar-benar gak mencintainya, gue cuma punya perasa aja gak lebih.
Postingan gue diatas, rasanya gue ingin berbagi sesuatu ke kalian. Ya, tentang ungkapan perasaan dan konsekuensinya.
Jadi, menurut pemahaman buku yang gue baca. Ungkapan perasaan itu enggak selalu berarti menembak. Itulah kenapa, gue suka heran ada aja orang yang cinta tapi gak berani mengakuinya. Ada yang takut ditolak, ada yang takut jadi berjarak. padahal sekali lagi, bilang cinta, bukan berarti nembak", bukan berarti "kamu mau jadi pacarku gak?" karena itu pengakuan atas sebuah rasa, bukan ekspresi atas sebuah asa.
Mari kita berpikir secara lebih dewasa. Coba kita ubah sudut pandang kita mengenai orang yang mengungkapkan kata cinta atau perasaan. Jangan anggap sebuah perasaan atau cinta itu sebuah tembakan, tapi sebuah pujian.
Kenapa dia cinta ke loe? pasti dia melihat hal-hal yang menarik dari loe. Itu pujian.
Kenapa dia cinta ke loe? pasti dia menilai loe bisa membuat nayaman. Itu pujian.
Kenapa dia cinta ke loe? pasti dia berfikir spesial. Itu pujian.
Nah, dari fakta-fakta tersebut kita bisa simpuilkan. Bagian manakah ungkapan cinta yang sebenarnya.
Cinta itu adalah anugerah dari Tuhan yang gak bisa diatur oleh pikiran. kalau ada cinta itu bukan manusia yang menghendak. Hatinya yang terjatuh sendiri. Seseorang akan jatuh cinta pada orang yang tak di duga. Dan saran gue buat kalian yang belum pernah mengenal jatuh cinta, gue kasih tau: Cinta itu bisa jadi beban di hati, kalau belum pernah diakui. Itulah kenapa, orang yang jatuh cinta sering cenderung mengungkapkan perasaannya. Bukan untuk memlikimu tapi cuma untuk merasa lega, untuk selainnya beda pembahasaannya.
Lah, terus gimana kalau abis ada orang yang bilang cinta atau sebuah perasaan ke kita?
Ya, ucapin makasih aja. gak ada tendensi untuk bilang"aku juga cinta"atau "maaf, aku gak merasakan hal yang sama.
Kalau untuk masalah memiliki itu butuh kesepakatan keduanya.
Nice post
BalasHapus